Selasa, 03 Maret 2009

Bersyukur di tengah Hujan

Hujan beberapa hari menggujur ibukota Jakarta
Motor lalu lalang terpaksa menepi untuk sekadar berlindung dari cipratan air berwarna coklat susu
Mereka bergerombol di bawah halte-halte bus, jembatan layang, atau di emperan toko
Mengingatkan kembali pada masa-masa itu
Waktu aku harus berkalkali berjuang di tengah banjir sekadar mendapat informasi secuil
Motor kesayangan rela kurendam hingga separuh ban
Dulu...aku mungkin mengeluh mengalami hal itu
Tapi ternyata di balik itu semua, Allah sedang mengajariku sesuatu yang berharga
Kini...setelah beberapa tahun setelah perjuangan di tengah banjir aku mulai sadar
Melihat mereka bergerombol di tengah hujan
Aku hanya bisa bersyukur...
Aaaahhh...masa-masa itu telah lewat
Dan nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan

Kamis, 19 Februari 2009

Susahnya jadi orang susah ?

Mungkin judul ini bukan sebuah jargon baru. Pagi ini, saya dipaksa berpikir sejenak ketika salah satu presenter TV Lokal di Jakarta menyebut kata ini. Ketika itu, JakTV baru saja menyajikan berita demo buruh di Bogor. Mereka di-PHK perusahaannya, dan entah bagaimana, gaji November-Desember mereka belum dibayar. Apalagi pesangonnya ? “Susah ya jadi orang susah” komentar si presenter.
Dalam berita itu, puluhan buruh mengadu ke Kantor Depnakertrans setempat. Herannya, tak ada satupun aparat yang menemui mereka. Kecuali para polisi dan pamong praja yang terlihat sibuk berjaga-jaga mengamankan para demonstran. Aksi ini relatif santun. Beberapa tulisan di spanduk sempat terbaca. Tuntutan mereka hanya satu. Agar pemerintah menegakkan hukum, menangkap para pengusaha nakal, dan hak-hak mereka sebagai buruh dipenuhi.
Tapi dasar nasib orang susah, siapa juga yang mau peduli. Anggota dewan yang terhormat ? Jangankan mau mengurusi kasus kecil semacam ini. Mereka kan lagi sibuk tebar pesona untuk pemilu nanti. Sibuk menebar janji-janji manis untuk menarik simpati. Giliran rakyat memilih – termasuk para buruh yang demonstrasi seperti ini – mereka pun lupa. Duduk di atas singasana yang nyaman, dan enggan beranjak turun lagi. Akibatnya, nasib kaum marginal seperti ini sebatas angin lalu bagi mereka. Ah…seperti itu biasa.
Lantas, bagaimana nasib para pengusaha nakal itu ? Tak ada yang tahu. Dan mungkin gak ada yang mau peduli, selama dukungan kuat untuk para buruh yang sudah susah itu belum ada. Tapi, namanya orang susah, siapa juga mau dukung. Kalaupun ada, pasti akan dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain yang notabene sekadar untuk kepentingannya pribadi, pun golongan mereka. Susah memang jadi orang susah.
Kesusahan negeri ini juga saya lihat tanpa sengaja saat urus KPR beberapa hari ini. Selepas interview dengan pihak Bank, saya melihat dua pasangan yang sudah cukup berumur menghampiri marketing developer yang saat itu sedang ngobrol dengan saya. “Gimana Pak,” tanya si Marketing sebut saja Ani ke mereka.
Si Bapak tadi, dengan wajah pasrah dan lunglai menjawab. “Kami kelihatannya disuruh nambah 22 juta lagi Mbak,” katanya. “Itu bisa dicicil nggak Mbak ?” timpal sang istri. “Bisa Ibu, tapi artinya nanti Ibu tiap bulannya harus nyicil segini….(sambil menunjukkan hasil hitung-hitungan di kalkulator),” jawab Ani. Melihat angka yang tertera di kalkulator, si Bapak hanya menghela napas. Dan wajah si Ibu tadi terlihat kecewa. Seolah-olah menyiratkan bahwa sangat susah menjadi orang kecil di negeri ini. Susah sekali buat pasangan dengan penghasilan pas-pasan seperti mereka mendapatkan RSSS (Rumah Sangat Sederhana dan Sempit Sekali).
“Mas mau ambil juga ?” tanya mereka ke saya. Saya pun mengangguk. “Di suruh nambah DP berapa Mas ?” tukasnya. “Wah..saya nggak dikasih tahu Ibu,” jawab saya. Mereka berdua pun pergi diiring dua anaknya yang kira-kira sudah duduk di bangku SD. Selepas itu, saya sempat khawatir juga, jangan-jangan, saya harus nambah DP juga sebesar itu. Kalau iya, berarti saya harus batalin niat beli rumah ini. Si Marketing pun mengerti dan mencoba membesarkan hati saja. “Mudah-mudahan nanti gak harus nambah Mas,” timpalnya. Memang susah jadi orang susah.
Tapi coba kita tengok sebentar. Buat mereka yang diberi kelebihan, mudah sekali mendapatkan segala hal di negeri ini. Rumah-rumah elite siap menyambut mereka. Apartemen-apartemen mewah hingga pavilion dan vila-vila megah menjadi keseharian mereka. Tak ada masalah sama sekali untuk mendapatkannya. Aturan di negeri ini juga tak membatasi nafsu mereka untuk memiliki berbagai properti, mobil mewah, barang-barang bermerek, perhiasan dan yang lainnya, sekadar untuk investasi atau meningkatkan pundi-pundi kekayaan mereka.
Sangat kontras dengan nasib Si Bapak dan Ibu tadi. Dengan dua orang anak dan penghasilan pas-pasan, sekadar memenuhi kebutuhan RSSS pun mereka harus buang jauh-jauh. Dan saya yakin, masih jutaan dari negeri ini yang bernasib sama dengan si Bapak dan Ibu ini. Tak ada satupun kebijakan yang dibuat para dewan yang memang sudah lupa dengan janji-janjinya kepada rakyat untuk memudahkan orang-orang seperti ini mampu memenuhi kebutuhan akan papan. Rusunami ? Apartemen subsidi ? KPR subsidi ?
Halah…itu semua hanya sebatas nama. Dengan cicilan rusunami atau apartemen subsidi mencapai 1 jutaan per bulan, bahkan dengan DP yang mencapai belasan bahkan puluhan juta, orang susah seperti Bapak-Ibu tadi, saya yakin tetap tak akan bisa menjangkaunya.
Kalaupun ada, selain mereka yang cukup berada atau paling tidak ada bantuan dari keluarga, hal-hal semacam ini tak akan pernah terbeli oleh orang susah seperti mereka. Dan akibatnya, mereka yang berkuasa, bergelimang harta, dengan jumawa kembali memborong properti-properti untuk memuaskan nafsu duniawi mereka. Rusunami, RSSS, Apartemen subsidi disewakan untuk mereka yang berpenghasilan pas-pasan, dan uangnya kembali memenuhi kantong-kantong kapitalis, penguasa ekonomi, dan mereka yang telah bergelimang harta. Susah memang menjadi orang susah.

Senin, 16 Februari 2009

Dukun Ponari dari Negeri Ajaib

Kelanjutan dari negeri aneh bin ajaib. Lagi-lagi, negeri ini dihebohkan oleh berita yang tergolong aneh bin ajaib. Setelah si jagal Ryan , dari Jombang lahir lagi satu tokoh fenomenal negeri ini. Ya, tokoh fenomenal kali ini adalah Ponari. Bocah petir yang disebut-sebut bocah sakti dari kampungnya si Ryan mengubur korban-korbannya. Usia Ponari masih 10 tahun memang. Tapi dia berhasil bikin petinggi negeri ini pusing keliling.
Aparat kepolisian Jombang sibuk dikerahkan untuk mengamankan bocah ini. Menteri kesehatan ikut berkomentar “Ini hanya fenonema sosial yang ada di salah satu masyarakat,” katanya pada beberapa media, Gubernur Jatim Mr. Soekarwo yang baru dilantik juga dibuat sibuk menanggapi kasus ini, Bupati Jombang, camat, apalagi lurah tempat Ponari tinggal juga dibuat kelabakan.
Puluhan ribu orang berjubel ngantri demi air kobokan batu dari tangan mungil anak yang dijuluki Dukun Ponari ini. Beberapa ada yang rela mengambil air comberan bekas mandi Ponari, belum lagi yang sibuk luluran pakai lumpur dan tanah di sekitar rumah Ponari. Bahkan, empat orang sampai tewas gara-gara kelelahan antri. Terakhir kali, Kak Seto, yang punya Komnas Perlindungan Anak sampai turun tangan karena menduga ada praktik eksploitasi anak.
Meski aparat sudah menutup praktik pengobatan Dukun Ponari, tetap saja puluhan ribu orang antri untuk menunggu giliran diobati. Ada yang lumpuh, paru-paru, jantung, bahkan mungkin yang sekadar panuan ingin sembuh lewat air yang dicelupi batu dari tangan Ponari. Yang bikin heran, sampai saat ini belum ada kesaksian dari mereka yang telah berobat (dapat celupan tangan ponari plus batu petir-nya). Apakah mereka sembuh ? Atau mereka tetap sakit ? Yang jelas, orang-orang sudah heboh dan sibuk antri di sepanjang jalan menuju rumah berdinding bambu yang ditinggali Ponari. Berharap mendapatkan kesembuhan atas penyakitnya.
Ini memang fenomena sosial yang terbilang aneh. Terlepas dari benar tidaknya keberhasilan pengobatan ala Dukun Ponari, fenomena ini pantas tercatat dalam kaleidoskop perjalanan panjang Bangsa Indonesia di tahun 2009.
Setidaknya, ada sisi positif yang dapat kita petik dari peristiwa ini. Masyarakat dapat kesibukan baru selain sibuk memeloti persiapan pemilu yang makin nggak menentu. Betapa tidak ? Belum lagi menjadi anggota dewan, calon-calon itu sudah sibuk tebar pesona kanan kiri, tanpa peduli melanggar aturan. Spanduk aneh-aneh ditebar, calon-calon adu tegang di layar kaca seolah mereka yang paling tahu, paling benar, dan paling layak dipilih diantara yang lainnya. Janji-janji manis mulai ditebar, bahkan ada yang mencoba bermain curang pake simulasi kertas suara palsu.
Fiuhhhhh….daripada begitu, mendingan Dukun Ponari kemana-mana. Dia nggak pernah bikin janji apa yang dilakukannya pasti menyembuhkan orang. Tapi setidaknya, puluhan ribu orang percaya dan dibuat bahagia dengan kehadiran Ponari. Dan dengan jumlah pasien yang mencapai puluhan ribu itu ditambah kekuatan daya tariknya, saya yakin si Ponari bisa dapat kursi legislatif kalau memang mau maju…. He..he..he…..ato jangan-jangan sudah ada parpol yang melirik “kekuatan” pesona dari Ponari ?

Minggu, 01 Februari 2009

Negeri Aneh bin Ajaib

Pantas saya dan mungkin pembaca juga menyebut negeri ini aneh. Betapa tidak, dalam keseharian kita selalu dihadapkan pada hal-hal yang sering membuat kita mengernyitkan dahi. Kenapa bisa begitu ? Kok yang begitu didiamkan saja ? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pasti sering kita lontarkan sehari-hari melihat hal-hal aneh yang terjadi di negeri ini.
Baru-baru ini, saya pun sempat sedikit jengkel campur heran. Dalam perjalanan naik motor yang cuma setengah jam, saya harus dihadapkan dengan hal-hal yang aneh tadi.
Awalnya, saat saya berhenti di lampur lalu lintas dekat Tugu Tani, Jakarta Pusat. Kondisi jalan waktu itu memang tidak terlalu ramai. Pas saya sampai di daerah situ, tiba-tiba lampu menyala merah. Otomatis, saya pun menghentikan motor saya. Kebetulan saya berada di lajur paling kiri, karena memang idealnya kan motor harus di lajur kiri kan ? Tapi nggak tahu juga kalau di negeri ini, apapun bisa terjadi.
Nah, persis di sebelah kanan saya berhenti mobil berwarna hitam. Katanya sih termasuk salah satu mobil mewah yang lagi booming di negeri yang katanya miskin tapi banyak yang mampu beli mobil ini. Toyota Harier namanya. Tiba-tiba, kaca jendela mobil itu dibuka sedikit. Persis yang ada di sebelah saya. Dan….satu plastik bekas bungkus makanan langsung terlontar dari dalam mobil itu.
Dasar negeri aneh. Orang naik mobil mewah, kelakuan gak jelas. Ingin rasanya saya mengambil plastik bekas itu dan membuang kembali ke dalam mobil orang tadi. Tapi saya gak bisa berbuat apa-apa, sebab kaca gelap yang tak menampakkan siapa pembuang sampah itu tadi buru-buru ditutup si empunya mobil.
Pas lagi merasa jengkel dengan kelakuan orang elite kelakuan gak jelas tadi, tiba-tiba saya dikagetkan bunyi klakson motor di belakang saya. Tinnn..tinnn.tinnn.tinnn. Motor itu berkali-kali membunyikan klaksonnya. Sontak, saya langsung tengok ke belakang. Itu pengendara motor memberikan kode ke saya. Tangannya mengayun-ayun ke depan, seolah-olah menyuruh saya buru-buru jalan ke depan. Saya lihat ke lampu lalu lintas. Orang masih merah kok, piker saya. Saya pun diam, tak menggubris kelakuan orang aneh pengendara motor yang memaksa saya melanggar lampu lalu lintas.
Lampu akhirnya menyala kuning sebentar dan langsung hijau. Motor pun saya pacu. Tiba-tiba, orang yang sempat memaksa saya menerobos lampu lalu linta tadi memepet motor saya dan mengumpat. Fiuhhhh…saya pun menghela napas, dasar penduduk negeri aneh.
Tak lama setelah itu saya sampai di daerah Manggarai. Ada lampu merah lagi. Sebagai orang yang “mencoba” untuk tidak menjadi orang Indonesia (yang identik suka seenaknya sendiri dalam berkendaraan), saya pun menghentikan motor saya persis di belakang garis putih zebra cross. Seperti biasa, motor-motor pembalap ala kampong Indonesia menerobos batas itu dan memilih berhenti persis di lintasan bus way bergerombol di situ.
Orang-orang aneh, apa bedanya berhenti di belakang garis putih lampu merah dengan maju sekian meter di depannya yang malah membahayakan keselamatan mereka. Untung nggak ada transjakarta, kalau ada, apa mereka gak ditabrak ?
Ketika saya masih asyik memikirkan hal aneh itu, tiba-tiba dari arah jalur busway di belakang saya melintas secepat kilat motor yang menderu kencang ala kampung dengan pengendara yang tak kalah kampungannya. Si pengendara tanpa peduli lampu merah langsung memutar balik motornya di perempatan itu. Alhasil, dia pun nyaris bertabrakan dengan motor dari arah berlawanan yang melaju di dekat gerombolan pengendara motor yang berhenti di lajur busway tadi.
Dan yang lebih membuat saya terheran-heran, di pengendara kampungan tadi justru memasang muka garang dan mengumpat ke pengendara motor yang nyaris ditabraknya. Saya pun kembali menghela napas. Inikah wajah negeriku ? Inikah masa depan bangsaku ? Bagaimana negeri ini bisa maju, kalau masih dipenuhi orang-orang yang bermental aneh bin ajaib seperti ini.

Jumat, 05 Desember 2008

Berburu Yang Extreme di Pasar Beriman

Kabut tipis masih menyelimuti perjalanan saya pagi itu. Rabu (3/12), saya diantar teman-teman dari kantor di unit daerah menuju ke Pasar “Heboh”. Begitu teman saya menyebut pasar yang satu ini. Saking hebohnya, kata teman saya, si Raja Kuliner Indonesia Bondan Winarno dan William Wongso pernah menjadikan pasar ini sebagai lokasi liputan acara kuliner mereka. Sebutan itu memang layak ditujukan untuk pasar satu ini. Betapa tak heboh, segala macam jenis makanan yang dianggap tak lumrah di tempat lain, ada di tempat yang satu ini.
Suasana Pasar yang sebenarnya bernama Pasar Beriman Tomohon ini sepintas tak beda jauh dengan pasar-pasar lain. Tenda-tenda berwarna-warni cerah menutup gang-gang sempit di antara bangunan gedung yang nampak kurang terawat. Pedagang-pedagang berwajah asia “sekali” nampak sibuk melayani pembeli. Pagi itu suasana pasar cukup ramai. Bisa jadi, karena pasar ini memang bersebelahan langsung dengan Terminal Bus Beriman, Tomohon.
Kenek-kenek, sopir-sopir bus kota beberapa diantaranya menyapa kedatangan kami. Mungkin karena secara fisik kita nampak berbeda dengan penduduk asli Tomohon yang sangat asia alias mirip-mirip warga Tionghoa. Makanya, mereka menganggap kita sebagai turis. Apalagi ada satu orang bule yang menemani perjalanan saya waktu itu.
Memasuki pintu gerbang pasar, kita dihadapkan pada banyaknya sayur dan buah-buahan segar hasil dari petani-petani dari Kota Bunga itu. Dan tentu saja, bunga-bunga segar yang semerbak dan beraneka warna tersedia di sini. Terletak di dataran tinggi berupa pegunungan, Tomohon mampu menghasilkan sayur, bunga, dan buah-buahan dengan kualitas baik. Pun cengkeh dan tembakau pernah menjadi salah satu komoditas andalan kota ini sebelum adanya krisis tembakau yang menyebabkan warga setempat enggan menanam kembali bahan baku rokok itu.
Tapi, pagi hari itu yang saya cari bukanlah sayur, buah, ataupun bunga. Saya ingin petualangan yang lain, yang lebih menantang. Makanya dengan tak sabar saya berusaha mencari komoditas “heboh” yang dijual di pasar tersebut. “Lewat jalan sebelah sana,” ujar teman saya yang sekaligus menjadi pemandu pada hari itu.
Kulit saya langsung berubah menjadi kemerahan, begitu melewati tenda berwarna oranye yang menaungi sepanjang gang sempit itu. Penjual dan pembeli berbaur menjadi satu. Dialog-dialog mereka dalam Bahasa setempat terdengar asing di telinga. “Paniki, Paniki,” teriak salah satu pedagang di sebelah kanan dan kiri saya.
Mata saya langsung tertuju pada sederet onggokan daging binatang lengkap dengan kepala yang menurut saya berwajah menyeramkan. Mata-mata daging binatang seukuran tikus got di Jakarta itu melotot. Semua lidahnya menjulur, mulutnya menganga, dan gigi-gigi runcing nampak mengerikan. Daging itu dalam kondisi terbakar semua, hitam. “Ini Paniki,” jawab si Pedagang ketika saya menananyakan binatang apa yang ada di depan saya itu. “Kami biasa menyebutnya Batman,” tukasnya
Saya takjub, ternyata itulah penampakan paniki yang sangat dikenal di Tomohon itu. Ya, Paniki alias Batman, alias Kelelawar. Paniki memang menjadi salah satu daging favorit warga Tomohon. “Biasanya dimasak dengan kelapa dan bumbu-bumbuan khas Manado. Kami menyebutnya Santan Kering,” tandas teman saya.
Ternyata, rasa takjub saya belum berakhir. Hanya sejengkal dari tempat pedagang Paniki tadi, saya melihat seonggok daging binatang melingkar dan nampak akrab di mata saya. Kulitnya menampakknya pola yang sangat indah. Binatang reptil yang biasa saya lihat di tayangan Discovery Channel itu teronggok di atas meja. Ukuran tubuhnya cukup besar untuk bisa menelan seekor kambing. Untung saja, kali ini saya melihat binatang ini sudah dalam kondisi mati. “Biasanya ada juga ular sawah. Tapi yang piton begini yang paling dicari,” kata si Pedagang. Mereka mengaku mendapatkan pasokan ular itu dari daerah lain. “Yang di sini sudah nggak ada. Kabur semua kali ya, takut dimakan…ha..ha..ha..,” seloroh teman saya.
Wuihhhh….saya kembali menarik napas. Sekitar lima ekor anjing terkurung dalam kerangkeng besi. Beberapa diantaranya melolong, seolah meminta tolong dari siapapun yang lewat. Mata-mata mereka pun nampak kosong, pasrah. Wajar saja, sebab di atas meja yang terletak di sebelahnya, tiga onggok daging gosong yang masih utuh menampakkan bentuk yang tak jauh berbeda dari mereka-mereka yang ada di dalam kerangkeng itu. “RW biasa kami menyebutnya. RW alias rintek wugug (bulu halus, Red),” jelas teman saya. “Yang ini juga enak kalau dibumbu Santan Kering,” jelasnya. Senyum langsung tersungging di bibir saya. Senyum antara heran, jijik, campur geli.
Eits…tapi tunggu dulu. Masih ada yang lain yang tak kalah extreme-nya di Pasar yang buka setiap hari dari Subuh sampai jam 1 siang ini. Kenapa sampai jam 1 ? “Soalnya jam 11 pasti sudah habis,” ujar si Pedagang.
Kali ini, puluhan daging gosong binatang yang sangat familiar buat saya tertata rapi. Mereka ditusuk sedemikian rupa dengan satu batang bambu. Ekor mereka berwarna putih. Dan saya yakin, siapapun yang geli dengan binatang yang satu ini pasti akan bergidik dan menampakkan ekspresi jijik melihatnya. Pun dilakukan teman seperjalanan saya waktu itu. “Ihhhh……,” jerit teman saya, ketika saya mencoba mendekatkan tikus putih yang telah dibakar gosong itu mendekat ke arahnya.
“Ekornya sengaja dibiarkan, supaya kelihatan bahwa ini adalah tikus putih, bukan tikus sawah atau rumah,” jelas teman saya yang katanya juga hobi menyantap hidangan Tikus Saus Manado ini. “Tapi nanti begitu dimasak kita buang ekornya,” tambahnya.
Fuihhhh….perjalanan saya di Pasar Beriman pagi itu cukup membuat saya merasa kenyang. “Apapun yang merayap pasti kami makan, kecuali kereta, itupun karena kereta dari besi. Apapun yang berkaki empat semuanya bisa kami makan, kecuali meja, itupun karena dari kayu,” seloroh teman yang memanduk perjalanan saya. “Ngomong-ngomong, nama Pasar Beriman sebaiknya diganti Pak. Lebih baik jadi Pasar Heboh aja,” tukas teman saya yang lain.

Rabu, 26 November 2008

Damainya Rantau, Aceh Tamiang

Di tulisan sebelumnya, saya lebih banyak bercerita tentang social environment saat Nonton Laskar Pelangi diputar di Rantau, Aceh Tamiang. Kali ini, seperti biasa saya akan berbicara dari sisi wisata dan kulinernya. Bagian yang saya suka setiap melakukan perjalanan ke pelosok tanah air. Dan tentu saja, masalah politik di Aceh yang sebenarnya sempat saya singgung di tulisan sebelumnya, akan coba saya sentuh sedikit.
Aceh Tamiang. Sebuah negeri di provinsi paling barat dari negeri Indonesia. Kota ini berbatasan langsung dengan Langkat, Sumatera Utara, kota yang pernah mencuat ke media massa karena banjir bandang melanda beberapa waktu silam. Dari Medan ke Rantau, dapat ditempuh lewat jalur darat. Jalanan relatif baik, lagipula hanya butuh waktu tak lebih dari 5 jam untuk mencapai Rantau.
Sepanjang perjalanan dari Medan ke Rantau, kita akan melewati beberapa kota di Sumatera Utara yang mungkin namanya cukup kita kenal. Salah satunya Binjai. Kota yang dikenal dengan buah rambutannya yang manis, dan daging buahnya tak lengket dengan bijinya, sehingga sangat mudah dimakan. Selain itu, kita juga akan melewati perkebunan kelapa sawit yang terbentang luas.
Konon, ketika kondisi Aceh belum sekondusif sekarang, perjalanan dari Medan ke Rantau dianggap berbahaya. Apalagi ketika harus melewati kebun-kebun sawit. Sejarah mencatat, beberapa kali baku tembak terjadi di sejumlah titik Kebun Sawit yang ada di wilayah perbatasan Aceh Tamiang dan Langkat. Dan tentu saja, entah berapa korban jiwa yang telah terenggut akibat konflik di Aceh itu. “Dulu salah satu pimpinan Kodim di sini pernah ditembak mati di dalam mobil,” ungkap driver yang mengantar saya.
Mendengar cerita itu, sedikit merinding juga bulu kuduk ini. Apalagi saat itu matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Suasana gelap pun memenuhi berkilo-kilometer jalanan di tengah lebatnya Kebun Sawit yang kami lalui. Sekilas, terbersit pikiran, bagaimana ya kalau tiba-tiba ada timah panas yang menembus dan melesat di dalam mobil kami ? “Ah…tapi itu kan dulu. Sekarang sudah relatif aman. Paling-paling, yang masih ada penjahat-penjahat dan perampok kendaraan,” kata sopir tadi.
Sambil terus memanjatkan doa agar selamat sampai tujuan, mobil patrol yang kami pakai semakin jauh menembus pekatnya Kebon Sawit itu. Setelah sempat terlelap, saya terjaga dan mendapati mobil sudah berada di jalanan yang cukup benderang dengan temaram lampu-lampu kota. “Ini sudah sampai di Kota Rantau-nya,” ujar si Sopir.
Wah…lumayan ramai juga. Bahkan lebih ramai dari Magetan, kota kelahiran dan tempatku menghabiskan waktu sebelum akhirnya menempuh pendidikan di Solo. “Tapi dulu jam segini sudah tidak ada yang berani keluar Bang. Orang selepas magrib sudah takut,” tutur si sopir.
Ternyata, tak sia-sia MoU Aceh ditandatangani pemerintah Indonesia dan GAM di Helsinki beberapa tahun lalu. Dampak nyata benar-benar nampak di depan mataku. Rantau yang dulu termasuk daerah yang mencekam, kini kembali hidup. Orang-orang berani keluar malam untuk melakukan aktivitasnya. Di kanan kiri jalan, bendera-bendera partai yang sibuk menarik simpati untuk 2009 bertebaran. Mulai dari yang nasionalis, agamis, bahkan partai lokal yang keberadaannya sempat menuai debat sengit di Senayan pun ada.
Saya membayangkan, betapa beratnya masyarakat Rantau termasuk saudara-saudara di Aceh pada masa konflik itu. Toko-toko tak ada yang buka di malam hari. Dan sudah pasti, tak ada kesempatan buat saya dapat menikmati Sop Sekekengkel yang luar biasa nikmat di salah satu warung khas Aceh Tamiang seperti sekarang dengan tenang. “Gimana nih makannya?” celetukku.
Sang pemilik warung mengajariku cara memakan sop khas Rantau yang berisi satu potong tulang besar lengkap dengan daging dan sumsum yang mengepul hangat dari dalam tulang. “Pakai sedotan dulu Bang. Sebelumnya, siram sumsumnya pakai air (kuah),” kata si pemilik warung. Slurrrppppp…sumsum yang hangat dan lembut langsung masuk ke tenggorokan. Teksturnya yang lembut ditambah rasa kuah yang sangat gurih benar-benar menggugah selera.
“Itu, yang empat orang duduk di pojok sana, yang mengamati kita, bekas GAM,” bisik si sopir. Sontak, mataku langsung menatap ke arah pojok warung. Sempat sedikit khawatir. Tapi buru-buru pikiran negatif aku buang. “Sekarang kan sudah damai. Mereka juga saudara-saudara kita. Buat apa musti takut,” timpalku. Aku menyadari, perdamaian itu memang benar-benar membawa kenikmatan yang tiada tara buat kita. Tak ada rasa khawatir, takut, ataupun terancam dan saling curiga.

Minggu, 23 November 2008

Demam Laskar Pelangi di Negeri Pelangi

Mauuuuuuu !!!!! Teriakan itu langsung membahana di lapangan bola Pertamina EP Rantau, setelah crew Miles Production mananyakan apakah para penonton ingin segera nonton Laskar Pelangi. Demam Laskar Pelangi memang semakin merebak di Indonesia. Selain sukses penjualan novel karya Andrea Hirata ini, film dari novel yang sama pun tak kalah suksesnya di pasaran.
Konon, dalam waktu tak kurang dari sebulan, penjualan tiket film besutan Riri Reza ini sudah memecahkan rekor box office nasional. Bahkan, sampai saat saya menulis ini pun, film ini masih bertengger dan diputar di bioskop-bioskop tanah air. Jumlah penontonnya, tentu saja sudah jauh melampaui tiket penjualan di bioskop. Sebab, film ini juga diputar di kampung-kampung laiknya layar tancap, seperti saya alami saat memutarnya di Pertamina EP Rantau.
Perjalanan saya ke Rantau memberi pengalaman yang luar biasa. Bukan sekadar kenangan akan masa kecil saat nonton layar tancap di depan gang rumah. Tapi, lebih dari itu. Dalam perjalanan itu, saya banyak belajar tentang politik, sosial, ekonomi dan tentu saja soal wisata dan kuliner.
Minggu (26/10), saya dan tim dari Miles serta dibantu teman-teman dari Pertamina EP Rantau sudah sibuk memasang layar tancap. Panggung besar kami geser ke tengah lapangan bola untuk tempat proyektor yang ternyata lumayan berat. Saking beratnya, untuk menerbangkan satu set proyektor film, kami harus merogok kocek untuk biaya overbagage yang jauh lebih mahal dari harga tiket pesawatnya sendiri.
Sementara itu, saking sibuknya kami mempersiapkan acara nonton bareng Laskar Pelangi di Rantau, tanpa terasa matahari di negeri Serambi itu semakin geser ke arah barat. Cahaya langit mulai semburat kemerahan. Rasa was-was akan datang hujan di malam pemutaran sempat terbersit di benakku. Apalagi, jauh di langit timur, petir beberapa kali menyambar-nyambar. Sejurus kemudian, gemuruh Guntur terdengar menggelegar. “Fiuh….Ya Allah, mudah-mudahan gak hujan tar malam,” pintaku.
Alhamdulillah, doa terkabul. Selepas azan magrib, langit Rantau masih terlihat cerah. Matahari bundar, hampir sempurna terlihat terang benderang menerangi lapangan bola tempat acara. Anak-anak kecil mulai berdatangan. Mereka berlarian, berkejar-kejaran, dan sesekali jatuh terguling di tanah rerumputan yang mulai berembun dan dingin menyejukkan.
Ah….aku terkenang masa kecil ketika dulu bersama teman-teman berlarian di alun-alun Magetan untuk sekadar nonton layar tancap. Tanpa peduli film apa yang akan diputar. Yang jelas, kami berbondong-bondong lantaran haus akan hiburan. Maklum, Magetan ketika itu adalah kota kecil di Jawa Timur yang bahkan boleh dikata lebih kecil dari kondisi Rantau sekarang.
Dan seperti anak-anak di Rantau malam itu, mungkin mereka juga tak terlalu peduli dengan film yang akan diputar. Yang jelas, mereka bisa keluar malam mingguan, untuk bersenang-senang di luar rumah, sekadar mencari hiburan. Aku tersenyum sambil mengamati tingkah laku mereka. Rasanya, senang sekali bisa mendatangkan layar tancap di daerah yang memang benar-benar butuh hiburan.
Antusiasme warga Rantau dari jam ke jam makin meningkat. Selepas azan isya, ratusan penonton tua, muda, anak-anak, keluarga, mereka yang pacaran, jalan kaki, naik mobil, atau pakai sepeda motor mulai memadati lapangan. Meski jauh dari suasana nyaman, toh mereka tetap semangat menikmati hiburan ala rakyat di tanah lapang. Jadi merasa berdosa ketika saya kadang merasa jengkel atau malah protes saat masuk ke 21 atau megablitz karena terpaksa antri, atau sound-nya bermasalah. Sedangkan anak-anak dan penduduk Rantau ? Ya, mereka sama sekali tak mengeluh dengan dinginnya angin malam. Bahkan, meski harus terpaksa duduk di atas rumput dan ada kemungkinan terkena gatal akibat serangga malam sekalipun.
Film pun diputar. Satu persatu wajah penonton saya amati di bawah temaram cahaya yang memendar dari Laskar Pelangi. Tawa riang mengembang di bibir penonton begitu adegan yang menggelitik terpampang di layar tancap. Dan tak sedikit juga yang menitikkan airmata begitu adegan mengharukan dengan apik dimainkan para pemain Laskar Pelangi.
Tanpa terasa, dua jam lebih film telah diputar. Iringan musik Laskar Pelangi yang dibawakan Nidji mulai mengalun. Disusul kemudian dengan lagu rukun iman. “Rukunnya iman itu, ada enam perkara…….” Penonton pun mulai bubar. Bukan lantaran gerimis tiba, tapi karena film mulai menuju ke detik-detik terakhirnya. Satu persatu penonton beranjak dari duduknya yang nyaman di atas tikar atau rumput lapangan. Beberapa anak kecil sudah terlelap dalam pelukan ibunya.
“Sudah lama kita tidak mendapat hiburan seperti ini Mas. Apalagi sejak perang saudara berkecamuk di Aceh. Apa ada yang berani keluar malam seperti sekarang,” celetuk salah satu orang yang duduk persis di tempat aku meluruskan kaki di atas tanah pasir berkerikil malam itu.